Minggu, 02 Juli 2017

PENDIDIKAN ANAK PRASEKOLAH





Pendidikan pra sekolah adalah pendidikan yang diberikan kepada anak-anak balita sebelum masuk sekolah taman kanak-kanak atau pendidikan dasar pertama yaitu sekolah dasar (SD). Sistem pendidikan ini juga sering dinamakan dengan pendidikan usia dini atau PAUD. Sistem pendidikan pra sekolah ini pertama kali dikenal oleh masyarakat ketika mereka mulai menyadari arti pentingnya mendidik anak sejak dini. Sehingga penyelenggaraannya juga lebih sering dilakukan oleh masyarakat sendiri melalui berbagai macam organisasi seperti PKK atau Lembaga Swadaya Masyarakat lain yang bergerak di bidang pendidikan.
Adapun tujuan utama dari pendidikan pra sekolah adalah untuk mengembangkan tingkat kecerdasan dan mental baik secara fisik dan rohani, serta membentuk karakter anak agar bisa mengatur perasaan emosi serta punya jiwa sosial yang tinggi. Sehingga ketika mereka masuk pada tingkat pendidikan dasar pertama, anak-anak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan lebih mandiri.
Mendidik anak sejak dini memang memang perlu melibatkan masyarakat umum bukan sekedar menjadi tugas orangtua semata. Karena rentang usia antara nol hingga enam tahun adalah masa emas dimana otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga mencapai 80%. Pada usia ini anak dengan mudah menyerap berbagai informasi melalui obyek yang dilihat dan diamati.
Namun pada usia ini pula anak belum bisa membedakan mana info yang baik dan yang tidak baik bagi mereka. Dan yang tidak boleh dilupakan, anak-anak ini ketika melakukan pengamatan tidak terbatas pada lingkup keluarganya saja, namun sudah mulai merambah pada lingkungan luar rumah. Dari sini sistem pendidikan pra sekolah untuk mendidik anak sejak dini yang diadakan akan punya peran yang penting.
Sebab pendidikan pra sekolah atau PAUD akan mengajarkan pada anak untuk memilih mana info yang boleh dijadikan contoh dan info yang tidak boleh diserap. Sehingga mereka sudah bisa membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang merupakan pelanggaran serta tidak boleh ketika masuk pada pendidikan dasar pertama.
Adapun pelajaran yang diberikan pada sistem pendidikan pra sekolah tidak hanya melalui perkataan saja, namun justru lebih mementingkan pada bentuk-bentuk permainan edukatif dan kandungan moral yang tinggi. Jadi anak tidak akan merasa terbebani dan tetap bisa melewati masa kanak-kanaknya yang penuh kegembiraan bersama teman-teman sebayanya.

1.      Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Prasekolah
Pada perosesnya anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan berbagai kegiatan jasmani. Pada usia tiga tahun anak mampu melakukan berbagaigerkan-gerakan yang telah bagus, seperti melempar menaiki tangga dan berlari.Sebagai orang tua dan guru harus memiliki potensi untuk mendorong untuk  perkembangan koqnitif dan motorik anak tersebut. Dengan demikian perlu adanya perencanaan pendidikan untuk anak Prasekolah sehingga kognitif dan motorik anak dapat terarahkan dengan baik.Untuk merancang pendidikan anak, para orang tua dan guru perrlu berpikir agar tidak terlalu banyak menuntut keterampilan di luar kemampuan anak. Setiap harianak-anak membutuhkan latihan kegiatan jasmani yang disertai kebugaran danaktivitas yang tinggi, tetapi kecendrungan anak saat ini lebih banyak melakukankegiatan pasif seperti menonton atau duduk diam di bangku atau kursi.Dengan demikian perencaan yang harus dilakukan guru dan orang tua untuk mendorong perkembangan jasmani anak-anak antara lain:
·         memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain
·         menyediakan fasilitas yang merangsang pergerakan motorik kasar dan halus.

2.      Keteraturan dan Ketidak Teraturan Perkembangan Anak Prasekolah
Dari konsepnya guru mempunyai kecenderungan memperlakuklan anak didiknyadengan perlakukan rata-rata atau sedikit di atas rata-rata. Walaupun ada di antaranyaguru yang sedikit menyimpang, akan tetapi dalam beberapa hal masih dapat diterima.
Perbedaan yang ada di antara anak-anak biasanya adalah dalam betuk budaya, bahasa, sosial dan perbedaan atau kelainan yang ditemukan.
·         perbedaan budaya, setiap kelompok manusia di dalam suatu masyrakat mempunyai nilai budaya yang khas sifatnya. Budaya dapat diartikan sebagaisikap dan tigkah laku yang telah dipelajari dan dimiliki sekelompok orang.
·         perbedaan bahasa, jika anak bebeda dari segi budaya maka seringkali mereka juga berbeda dari segi bahasa yang dipergunakan. Misalnya anak memiliki kemampuan retorika berbahasa indonesia yang berbeda, ini juga dapatmenyebabkan anak menjadi malu dan terhambat perkembangan sosialnya.
·         perbedaan kelas sosial ekonomi, dari hasil penelitian ditemukan bahawa ada perbedaan yang sagat signifikan dalam tugas akademik antara anak yang berasal dari keluarga kurang mampu dengan anak dari keluarga yang lebihmampu. Perbedaan ini pada dasarnya bukan berasal dari keturunan (heraditas),namun sering dikatakan dengan pengaruh lingkungan.

Ciri Anak Prasekolah atau TK – Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial, dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anakdalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma- norma kehidupan bermasyarakat.
Dalam proses perkembanganya ada ciri-ciri yang melekat dan menyertai periode anak tersebut. Menurut Snowman (1993 dalam Patmonodewo, 2003) mengemukakan ciri-ciri anak prasekolah (3-6 tahun) yang biasanya ada TK. Ciri-ciri anak TK dan prasekolah yang dikemukakan meliputi aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif.
1.      Ciri Fisik Anak Prasekolah Atau TK.
Penampilan maupun gerak gerik prasekolah mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya. Anak prasekolah umumnya aktif. Mereka telah memiliki penguasaan atau kontrol terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup, seringkali anak tidak menyadari bahwa mereka harus beristirahat cukup. Jadwal aktivitas yang tenang diperlukan anak.
2.      Ciri Sosial Anak Prasekolah atau TK
Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial, mereka mau bermain dengan teman. Sahabat yang dipilih biasanya yang sama jenis kelaminnya, tetapi kemudian berkembang sahabat dari jenis kelamin yang berbeda.
Anak lebih mudah seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar. Parten (1932) dalam social participation among praschool children melalui pengamatannya terhadap anak yang bermain bebas di sekolah, dapat membedakan beberapa tingkah laku sosial:
a)      Tingkah laku unoccupied anak tidak bermain dengan sesungguhnya. Ia mungkin berdiri di sekitar anak lain dan memandang temannya tanpa melakukan kegiatan apapun.
b)       Bermain soliter anak bermain sendiri dengan menggunakan alat permainan, berbeda dari apa yang dimainkan oleh teman yang berada di dekatnya, mereka berusaha untuk tidak saling berbicara.
c)      Tingkah laku onlooker anak menghasilkan tingkah laku dengan mengamati. Kadang memberi komentar tentang apa yang dimainkan anak lain, tetapi tidak berusaha untuk bermain bersama.
d)     Bermain pararel anak-anak bermain dengan saling berdekatan, tetapi tidak sepenuhnya bermain bersama dengan anak lain, mereka menggunakan alat mainan yang sama, berdekatan tetapi dengan cara tidak saling bergantung.
e)      Bermain asosiatif anak bermain dengan anak lain tanpa organisasi. Tidak ada peran tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri.
f)        Bermain Kooperatif anak bermain dalam kelompok di mana ada organisasi. Ada pemimpinannya, masing-masing anak melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan, misalnya main toko-tokoan, atau perang-perangan.
3.      Ciri Emosional Anak Prasekolah atau TK
Anak TK cenderung mngekspreseikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut.
Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.
4.      Ciri Kognitif Anak Prasekolah atau TK
Anak prasekolah umumnya terampil dalam berbahasa. Sebagian dari mereka senang berbicara, khususnya dalam kelompoknya, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk berbicara, sebagian dari mereka dilatih untuk menjadi pendengar yang baik.
Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi dan kasih sayang. Ainsworth dan Wittig (1972) serta Shite dan Wittig (1973) menjelaskan cara mengembangkan agar anak dapat berkembang menjadi kompeten dengan cara sebagai berikut:
·         Lakukan interaksi sesering mungkin dan bervariasi dengan anak.
·         Tunjukkan minat terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan anak.Berikan kesempatan kepada anak untuk meneliti dan mendapatkan kesempatan dalam banyak hal.
Berikan kesempatan dan dorongan maka untuk melakukan berbagai kegiatan secara mandiri.
ü  Doronglah anak agar mau mencoba mendapatkan ketrampilan dalam berbagai tingkah laku.
ü  Tentukan batas-batas tingkah laku yang diperbolehkan oleh lingkungannya.
ü  Kagumilah apa yang dilakukan anak.
ü  Sebaiknya apabila berkomunikasi dengan anak, lakukan dengan hangat dan dengan ketulusan hati.

Read More

Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)



Pengertian  Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya  tanpa selalu menunjukan pada ketidakampuan mental, emosi atau fisik. Menurut Kanner, tokoh yang mengemukakan isilah autisme, bahwa anak autis adalah anak yang mengalamu outstanding fundamental disorder, sehingga tidak mampu melakukan interaksi dengan lingkungannya. Oleh sebab itu, anak autis bersifat menutup diri dan tidak peduli, serta tidak memperhatikan lingkungannya. Yang termasuk kedalam ABK adalah: 

·         Tunanetra (Gangguan Penglihatan)
·         Tunarungu (Gangguan Pendengaran)
·         Tunagrahita (Gangguan Mental)
·         Tunadaksa (Kelainan fisik)
·         Gangguan Perilaku
·         Anak berbakat (gifted)
·         Anak dengan gangguan kesehatan 

Istilah lain bagi anak kebutuhan khusus adalah Anak Luar Biasa, anak cacat dan Anak Dengan Kedisabilitas (ADK). Karena karakteristik dan hambatan yang di miliki,  ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya, bagi anak tunanetra memerulkan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuhan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing.

a)    SLB bagian A unuk tunanetra
b)    SLB bagian B untukrungu
c)    SLB bagian C untuk tunagrahita
d)   SLB bagian D untuk tunadaksa
e)    SLB bagian E untuk tunalaras
f)     SLB bagian G untuk cacat ganda 

Anak berkebutuhan khusus memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya karena mengalami hambatan dalam belajar dan perkembangan baik permanen maupun temporer yang disebabkan oleh faktor lingkungan, faktor dalam diri anak sendiri atau kombinasi keduanya

Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus
1)      Gangguan Penglihatan (tunanetra) di klasifikasikan menjadi beberapa macam yaitu

a)      Berdasarkan gangguannya
·         Buta total adalah keadaan dimana kedua mata tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya
·         Buta sebagian adalah keadaan dimana salah satu mata dari seseorang tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya
·         Low Vision adalah keadaan yang terjadi pada penglihatan seseorang, dimana orang tersebut tidak dapat melihat wujud asli dari suatu benda melainkan hanya berupa bayangan yang kabur                  

b)      Berdasarkan waktu terjadinya waktu terjadinya ketunanetraan
·         Tunanetra sebelum dan sejak lahir
·         Tunanetra setelah lahir dan atau pada usia kecil
·         Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja
·         Tunanetra pada usia dewasa
·         Tunanetra dalam usia lanjut

c)      Berdasarkan kemampuan daya  penglihatan
·         Tunanetra ringan (defective vision/low vision) mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi masih dapat mengikuti program-program pendidikan
·         Tunanetra setengah berat (partially blind) mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya mampu mengikuti program pendidikan dengan kaca pembesar
·         Tunanetra berat (totally blind) mereka yang sama sekali tidak dapat melihat
d)     Berdasarkan pemeriksaan klinis
·         Tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200
·         Tunanetra yang masih memiliki ketajaman penglihatan antara 20/70 sampai denhan 20/200
e)      Berdasarkan kelainan-kelainan pada mata
·         Myopi adalah penglihatan jarak dekat
·         Hyperopia adalah penglihatan jarak jauh
·         Astigmatisme adalah penyimpangan atau penglihatan kabur

2)      Gangguan pendengaran (tunarungu) diklasifikasikan menjadi beberapa macam yaitu:
a)      Berdasarkan tingkat keberfungsian telinga dalam mendengar bunyi
·         Ketunarungan ringan (kondisi seseorang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 20-40 dB)
·         Keunarunguan sedang (kondisi seseorang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 40-65 dB)
·         Ketunarungan berat (kondisi seseorang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 95 dB atau lebih keras)
b)      Berdasarkan lokasi gangguannya menurut Easterbrooks
·         Conductive loss adalah ketunarunguan yang terjadi bila terdapat gangguan pada bagian luar atau tengah telinga yang menghambat dihantarnya gelombang bunyi ke dalam telinga
·         Sensorineural loss adalah ketunarunguan yang terjadi bila terdapat kerusakan pada bagian dalam telinga atau saraf auditer yang mengakibatkan terhambatnya pengiriman pesan bunyi otak
·         Central auditory processing disorder adalah gangguan pada sistem saraf pusat proses auditer mengakibatkan individu mengalami kesulitan memahami apa yang didengar meskipun tidak ada gangguan yang spesifik pada telinga individu tersebut

3)      Ganguan Mental rendah (tunagrahita) diklasifikasikan menjadi beberapa macam yaitu:
a)      Berdasarkan berat ringannya
·         Debil (ringan) mempunyai IQ antara kisaran 50 – 70
·         Imbesil (sedang) mempunyai IQ antara kisaran 30 – 50
·         Idiot (berat) mempunyai IQ dibawah rata-rata 30 kebawah
b)      Berdasarkan sosial psikologi
Terdapat 4 taraf kriteria psikometrik menurut skala intelegensi wechsler
·         Retardasi mental ringan, sesorang yang memiliki IQ antara 55-69
·         Retardasi mendal sedang, seseorang yang memiliki IQ antara 40-54
·         Retardasi mendal berat, seseorang yang memiliki IQ antara 20-39
·         Retardasi mendal sangat berat, seseorang yang memiliki IQ  < 20


Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Medan, Sumatera Utara, Indonesia